Peternakan Domba Garut "Toekang Domba"

Salam Peternak Indonesia!
"Toekang Domba" adalah nama peternakan khusus Domba Garut yang kami kelola untuk pembibitan domba garut unggul. Peternakan Domba Garut "Toekang Domba" adalah langkah kecil kami dalam upaya turut melestarikan ternak asli Indonesia khususnya Domba Garut. Peternakan "Toekang Domba" berlokasi di daerah Soreang sebelah selatan kota Bandung yang merupakan daerah yang nyaman dan sejuk dengan ketinggian 800 meter diatas permukaan laut.



Kamis, 24 September 2009

Kunjungan ke Peternak Mitra Desa Jatisari Kecamatan Kutawaringin, Soreang Kabupaten Bandung.

Jakarta, 23 September 2009

BAGIAN I

Pada tanggal 23 September 2009, bertepatan dengan liburan hari raya Idul Fitri 1430 H dan sesuai dengan rencana sebelumnya selain bersilaturahmi dengan orang tua serta saudara penulis di Kota Bandung, penulis juga berkesempatan berkunjung ke Kelompok Peternak Mitra ”Peternakan Toekang Domba” milik Penulis yang ada di wilayah Desa Jatisari Kecamatan Kutawaringin Soreang Kabupaten Bandung.

Alhamdulillah Penulis dapat bersilaturahmi dengan saudara-saudara peternak mitra yang telah lulus seleksi dan diberikan kepercayaan untuk memelihara indukan domba garut milik peternakan domba garut ”Toekang Domba” yang dikelola Penulis. Saat ini semua indukan yang telah diserahkan pada tahap pertama yaitu pada tanggal 29 Maret 2009 lalu yang dalam keadaan bunting semuanya sudah melahirkan anakan dengan jumlah anak yang bervariasi dari mulai 1 ekor, 2 ekor sampai dengan 3 ekor anak. Sebenarnya kunjungan rutin ke peternak mitra biasa dilakukan secara rutin setiap 1 bulan sekali oleh bagian operasional/pembina peternakan ”Toekang Domba” sebagai langkah pembinaan kepada peternak mitra mulai dari kebersihan kandang, kesehatan ternak domba garut serta diskusi seputar pemeliharaan ternak domba garut.

Namun dikarenakan kesibukan Penulis, yang saat ini masih aktif bekerja di Jakarta, kadang kala penulis tidak selamanya dapat ikut serta dalam kunjungan kepada peternak mitra, sehingga kunjungan rutin setiap bulan lebih sering dilakukan oleh bagian operasional.

Dalam kunjungan kali ini, ada beberapa catatan penting dari penulis terkait dengan kemitraan yang dilakukan selama ini di wilayah Desa Jatisari Kecamatan Kutawaringin Soreang Kabupaten Bandung.

a. Program Kemitraan

Terkait Program kemitraan yang penulis terapkan selama ini, Penulis banyak sekali menimba ilmu konsep kemitraan dari Bapak Suhadi Sukama yaitu senior dibidang peternakan dan perkebunan yang juga merupakan penggagas & pemilik peternakan domba garut dan perkebunan Villa Domba (www.villadomba.com) . Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Bapak Suhadi Sukama serta Kang Agus Ramada dan Kang Alam.

Melihat perkembangan program kemitraan yang sudah dilakukan serta semangat kelompok peternak mitra yang ada di Desa Jatisari Kecamatan Kutawaringin Soreang Kabupaten Bandung. Penulis berencana membantu membuat kandang untuk peternak mitra dengan kapasitas 100 ekor domba, kandang tersebut merupakan kandang kemitraan ternak domba garut untuk dikelola secara bersama-sama oleh beberapa peternak mitra. Dan sebagai tahap pertama, maka pada bulan September 2009 telah dibuatkan kandang domba sederhana untuk kapasitas 20 ekor domba dan alhamdullilah kandang tersebut sudah selesai dan siap untuk dioperasikan untuk kandang induk bibit domba garut terseleksi maupun untuk kandang penggemukan domba garut jantan yang nantinya disiapkan untuk memenuhi kebutuhan pasar harian maupun aqiqah dan kurban. Mudah-mudahan rencana ini dapat berjalan dengan baik dan merupakan pilot project untuk program kemitraan di tempat lain.


























































































































Pasukan peternak mitra “Toekang Domba” yang ada di Desa Jatisari Kecamatan Kutawaringin Soreang.































Bersambung ......BAGIAN II

Sabtu, 05 September 2009

Pelestarian Domba Garut Melalui Budaya Domba Tangkas (Domba Adu)

Domba Garut merupakan salah satu ternak yang dipelihara oleh sebagian masyarakat sebagai ternak aduan yang merupakan salah satu budaya turuntemurun yang tetap dilestarikan. Selain mempertahankan budaya itu sendiri, juga mempertahan domba garut sebagai domba aduan yang memiliki kualitas tersendiri. Dengan dipertahankannya suatu bangsa ternak, maka semua
kualitas ternak dari yang jelek, sedang dan baik dapat dijumpai disuatu wilayah dimana ternak tersebut dilestarikan.
Beraneka ragamnya kualitas ternak yang tersedia tersebut, bila ditinjau dari sisi sosial budaya maka semua lapisan masyarakat khususnya para petani - ternak dapat memelihara ternak sesuai dengan selera dan kemampuan finansialnya. Bila ditinjau dari sisi breeding - reprodukasi, maka pengaturan perkawinan selain untuk meningkatkan populasi dan memperpendek jarak beranak juga dapat menghindari perkawinan sedarah (inbreeding). Jadi pelestarian domba Garut dapat dilakukan dengan mempertahan budaya domba adu atau domba laga. Dalam kurun waktu tertentu akan muncul ternak yang unggul akibat seleksi alam. Dalam mempertahankan salah satu bangsa ternak tersebut, adalah melalui budaya seperti yang sekarang sudah ada yaitu budaya domba laga atau domba aduan. Budaya ini sejak lama dan secara turun-temurun berkembang di wilayah Periangan khususnya di kota Garut yang dikenal dengan domba Garutnya.
Yang terpenting adalah bagaimana caranya agar pada bangsa domba Garut tersebut tidak terjadi perkawinan sedarah (inbreeding). Untuk mengatasi hal itu, maka harus didatangkan ternak dari luar yang berasal dari rumpun yang sama. Beraneka ragamnya kualitas ternak yang tersedia tersebut, bila ditinjau dari sisi sosial budaya maka semua lapisan masyarakat khususnya para petani - ternak dapat memelihara ternak sesuai dengan selera dan kemampuan finansialnya. Dengan beranekaragamnya sifat dan selera masyarakat tersebut diharapkan perkawinan sedarah pada ternak yang dipeliharanya dapat dihindarkan. Untuk tetap terjaganya domba Garut tersebut tentunya Pemerintah harus menetapkan wilayah yang diperuntukan untuk pelestarian dan pemurnian domba Garut tersebut dengan jalan tidak memasukkan ternak domba dari rumpun lain masuk ke wilayah pelestarian tersebut.

Sejarah Adu Domba
Domba Garut yang sekarang ini berasal dari domba Merino yang masuk ke kota Garut pada tahun 1869, dan terjadi persilangan dengan domba lokal dan domba Kaapstad, kemudian secara bertahap menyebar ke beberapa wilayah seperti ke Limbangan, Kabupaten Sumedang dan Bandung (Merkens dan Soemirat, 1926 Dalam Heriyadi. , 2008). Domba Garut dipercaya berasal dari domba lokal, khususnya domba lokal dari daerah Cibuluh dan Wanaraja yang memiliki ciri sangat spesifik, yaitu memiliki kombinasi telinga rumpung (rudimenter) dengan ukuran di bawah 4 cm atau ngadaun hiris dengan ukuran 4 - 8 cm dengan ekor ngabuntut beurit atau ngabuntut bagong, warna dominan hitam terutama pada bagian muka dengan bentuk tubuh ngabaji (Heriyadi dan Surya, 2004 Dalam Heriyadi., 2008). Pada tahun 1900, bermula dari anak gembala yang iseng ketika melihat domba yang digembalakannya memiliki sifat agresif, maka para gembala domba tersebut disela -sela waktu menyabit mengadu domba - domba jantan yang ada disekitar mereka. Tahun 1905 orang tua para gembala atau para juragan
pemilik domba, mulai tertarik dan membuat agenda khusus untuk menyelenggarakan kegiatan adu domba antar kampung, sehingga lama kelamaan kegiatan tersebut mulai menyebar luas ke daerah lain, seperti ke Wilayah Kabupaten Bandung dan Sumedang. Tahun 1920-1930 kegemaran adu domba ini mulai ditampilkan di daerah perkotaan, termasuk pemah diselenggarakan di Alun-alun Bandung. Tahun 1942 -1949 kegiatan adu domba fakum, karena masa perang kemerdekaan. Tahun 1953 kegiatan adu domba mulai marak kembali, bahkan pada Tahun 1960 bermunculan ARENA -ARENA adu domba. Tahun 1970-an didirikan organisasi HPDI (Himpunan Peternak Domba Indonesia), kemudian tahun 1980 berubah menjadi HPDKI (Himpunan Peternak Domba dan Kambing Indonesia) dan disepakati untuk mengubah istilah adu domba menjadi ketangkasan domba, hal ini untuk mengubah citra adu domba yang negatif dan terkesan senantiasa terkait dengan perjudian, menjadi istilah yang memiliki konotasi positif. Selanjutnya di bawah wadah HPDKI ini hampir setiap tahun menjelang hari-hari bersejarah diadakan kontes dan ketangkasan Domba Garut antar Kabupaten dan Kotamadya se-Jawa Barat. Tahun 1983 diadakan kontes dan ketangkasan domba di Kecamatan Mandirancan Kabupaten Kuningan, sekaligus diselenggarakan rapat HPDKI yang dihadiri hampir seluruh perwakilan cabang. Salah satu butir rapat yang disetujui adalah mengubah istilah kontes dan ketangkasan domba menjadi Kontes Seni Ketangkasan Domba, sehingga dalam penyelenggaraan selanjutnya penekanan tangkas lebih diarahkan pada seni bukan pada tangkasnya. Penilaian lebih dititikberatkan pada adeg-adeg (postur, jingjingan, ules, warna bulu,corak atau motif bulu), keindahan pengambilan ancang-ancang, pola serangan atau teknik pukulan, teknik menghindar dan hal-hal lain yang menyangkut estetika (Herdiyadi, 2008) Evaluasi Produktivitas Diketahui bahwa domba tangkas (domba adu) yang merupakan domba Garut di daerah Periangan, adalah merupakan bagian kecil dari seni budaya yang ada di Indonesia yang secara tidak langsung ikut melestarikan ternak domba Garut tersebut. Sebagai contoh, para peternak domba tangkas (domba aduan) di Jawa Barat sudah terbiasa memilihara ternak domba Garut dengan baik, seperti memandikan ternak, menggunting kuku, memangkas bulu agar kelihatan indah dan memberikan pakan yang berkualitas (konsentrat, mineral dan jamu). Dengan pemeliharaan seperti itu maka akan memberikan pertumbuhan yang baik, bahkan dapat mencapai bobot hidup 100 kg (Sutisna. ,2001). Dikatakan lebih lanjut bahwa sebagian peternak domba adu / laga (domba tangkas) telah melakukan pemurnian bangsa dengan melakukan pencatatan khususnya mengenai silsilah baik domba jantan maupun betina.domba Garut. Damayanti et al., (2001) menyatakan bahwa domba Garut termasuk bangsa domba yang memiliki tingkat kedewasaan lebih awal, jarak beranak pendek dan pada domba jantan memiliki libido tinggi, kemudian bobot hidup jantan dan betina dewasa masing - masing mencapai 40 - 85 kg dan 34 - 59 kg. Menurut Ramada (2007) bahwa domba Garut jantan dapat memiliki berat sekitar 60 - 80 kg bahkan ada yang dapat mencapai lebih dari 100 kg. Sedangkan domba betina memiliki berat antara 30 - 50 kg. Ciri fisik Domba Garut jantan yaitu bertanduk, berleher besar dan kuat, dengan corak warna putih, hitam, cokelat atau campuran ketiganya. Ciri domba betina adalah dominan tidak bertanduk, kalaupun bertanduk namun kecil dengan corak warna yang serupa domba jantan. Sejatinya, kontes domba tangkas/laga (domba adu) di daerah Periangan Jawa Barat, merupakan bagian dari budaya yang memberikan sumbangsih kepada pelestarian dan pemurnian domba Garut. Hendaknya Pemerintah membeli domba tangkas/laga (domba adu) yang menang kontes untuk dijadikan bibit unggul.

Hastono
Penulis dari Balai Penelitian Ternak
Dimuat dalam Tabloid Sinar Tani, 1 April 2009

Pertumbuhan Inklusif dalam Pembangunan Peternakan

Revolusi peternakan yang ditandai dengan kian meningkatnya konsumsi daging dan susu per kapita–bersamaan dengan meningkatnya pendapatan–merupakan salah satu sumber pertumbuhan pertanian yang signifikan di negara-negara berkembang. Di India misalnya, seiring dengan peningkatan pendapatan, konsumsi susu meningkat dua kali lipat antara awal 1980-an dan akhir 1990-an. Sementara di China, jika pada 1985 penduduknya hanya mengkonsumsi 20 kg daging/kap/tahun, kini meningkat menjadi lebih dari 50 kg daging/kap/tahun.

Revolusi peternakan ini juga didukung oleh revolusi supermarket sehingga meningkatkan pasokan protein dan menyediakan menu makanan yang lebih beragam. Tak ayal, supermarket menjadi kian dominan dalam bisnis ritel produk pertanian domestik. Apalagi didukung dengan adanya kecenderungan konsumen kian meningkatkan perhatian pada kualitas dan keamanan makanan. Selera atau preferensi makanan pun ikut mengglobal. Faktor lain, masuknya jaringan supermarket multinasional yang kemudian berkembang dengan cepat. Perubahan permintaan konsumen ini kemudian mendorong pertumbuhan industri pengolahan dan jasa makanan.

Sayangnya, revolusi peternakan dan revolusi supermarket sejauh ini dinilai belum dapat memberikan pertumbuhan yang inklusif secara optimal. Yaitu pertumbuhan yang tidak hanya menguntungkan peternak atau pelaku usaha peternakan berskala besar, tetapi juga meningkatkan peran serta peternak atau pelaku usaha berskala kecil.

Dorong Peran Serta Peternak

Dampak pertumbuhan peternakan terhadap peternak skala kecil bergantung pada peran serta mereka di pedesaan dalam pasar peternakan yang bernilai tinggi (high-value commodity). Upaya mendorong peran serta peternak berskala kecil tersebut membutuhkan infrastruktur pasar, peningkatan kemampuan teknis peternak, instrumen manajemen risiko dan tindakan kolektif melalui berbagai organisasi produsen.

Sementara itu permintaan produk peternakan primer dan olahan yang bernilai tinggi naik dengan pesat didorong oleh pendapatan yang meningkat, liberalisasi perdagangan yang semakin intensif, investasi asing (foreign direct investment) dan kemajuan teknologi. Perkembangan-perkembangan ini memperluas kesempatan pasar yang penting untuk mempercepat pertumbuhan peternakan, pengolahan dan jasa peternakan, perluasan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan di pedesaan. Pasar baru tersebut menuntut kualitas, pasokan yang tepat waktu dan skala ekonomis tinggi.

Tak hanya itu, peningkatan nilai tambah produk bernilai tinggi juga membutuhkan sistem pemasaran yang berfungsi baik sehingga dapat mengurangi biaya pemasaran dan ketidakpastian pasokan, memperbaiki ketahanan pangan dan lebih mendekatkan peternak dengan konsumennya. Dengan cara ini, sistem pemasaran akan menciptakan sinyal-sinyal kepada peternak mengenai peluang-peluang.

Walau demikian, revolusi peternakan tidak serta merta mengurangi kemiskinan. Sebab, bisnis ini menuntut pengelolaan secara intensif (management intensive), berisiko tinggi–baik karena penyakit maupun fluktuasi harga–serta membutuhkan investasi yang tidak sedikit.

Faktanya, revolusi peternakan lebih banyak digerakkan oleh sektor swasta dan pasar. Tak pelak, peranan supermarket yang mengandalkan manajemen rantai pasokan (supply chain management) yang baik menjadi keniscayaan. Namun, kualitas dan standar yang telah ditetapkan tersebut justru kerap mempersulit peternak skala kecil bertindak sendiri-sendiri untuk mengambil bagian di pasar ini. Dalam kaitan inilah mereka memerlukan pertanian kontrak (contract farming) dan tindakan kolektif dari berbagai organisasi produsen yang ada.

Pasar yang efisien membutuhkan manajemen dan kebijakan pemerintah yang baik terkait dengan infrastruktur, kelembagaan dan layanan penyedia informasi pasar, menetapkan grading dan standar, mengelola risiko dan pelaksanaan kontrak perjanjian. Perlu dicatat bahwa pasar yang efisien pun belum tentu menjamin hasil akhir (keuntungan) yang adil. Dalam hal keadilan memperoleh marjin ini, peternak atau pelaku usaha berskala kecil perlu membangun daya tawar mereka melalui berbagai organisasi produsen yang didukung oleh kebijakan pemerintah yang berpihak pada mereka.

Oleh: Dr. Ir. Arief Daryanto, M.Ec.
Direktur Program Pascasarjana MB IPB

Dikutip dari http://www.trobos.com