Peternakan Domba Garut "Toekang Domba"

Salam Peternak Indonesia!
"Toekang Domba" adalah nama peternakan khusus Domba Garut yang kami kelola untuk pembibitan domba garut unggul. Peternakan Domba Garut "Toekang Domba" adalah langkah kecil kami dalam upaya turut melestarikan ternak asli Indonesia khususnya Domba Garut. Peternakan "Toekang Domba" berlokasi di daerah Soreang sebelah selatan kota Bandung yang merupakan daerah yang nyaman dan sejuk dengan ketinggian 800 meter diatas permukaan laut.



Jumat, 04 September 2009

Analisa Usaha Perbibitan Domba dengan Menggunakan Parameter Reproduksi

Sampai dengan saat ini jarang sekali ditemukan perhitungan analisa usaha perbibitan ternak, baik dalam buku-buku panduan di perguruan tinggi, di sekolah menengah, ataupun buku-buku komersil yang ada di toko-toko buku. Yang banyak sekarang beredar adalah perhitungan analisa usaha pada kegiatan penggemukan. Sedikitnya informasi analisa usaha perbibitan tersebut bisa disebabkan karena masih sedikitnya perusahaan atau individu yang menjalankan usaha perbibitan atau masih sulitnya perhitungan analisa usaha perbibitan jika dilihat dari aspek bisnis, sehingga para pelaku usaha merasa tidak percaya diri untuk mengekspos hasil usahanya. Mungkin ini juga yang menyebabkan kurang bergairahnya usaha di bidang perbibitan ternak. Alasan klasiknya biaya tinggi dan memerlukan waktu yang sangat lama sehingga tidak feasible dan bankable menurut perhitungan analisa usaha.

Pada tulisan ini penulis akan menyampaikan salah satu cara perhitungan pendapatan dalam sebuah perbibitan ternak domba (bisa juga untuk kambing pedaging) menurut parameter reproduksi. Kunci utama dalam perhitungan parameter reproduksi ini adalah data reproduksi ternak yang falid di kandang, karena tanpa informasi data yang benar maka hasil perhitungan tersebut tidak bisa dijadikan rujukan. Data-data yang diperlukan adalah data tanggal kelahiran, jumlah induk total, jumlah induk yang melahirkan, jumlah anak yang dilahirkan, jumlah anak yang mati sebelum sapih (di bawah 4 bulan), dan bobot sapih (bobot anak saat disapih umur 4 bulan).

Dari data-data di atas akan diperoleh beberapa istilah parameter reproduksi, yaitu : Litter Size (LS), Mortalitas Anak Prasapih (MAPr), Lambing Interval (LI), dan Bobot Sapih (BS). Litter size adalah jumlah anak per kelahiran, cara menghitungnya dengan membagi jumlah anak yang dilahirkan dengan jumlah induk yang melahirkan. Mortalitas anak prasapih adalah persentase jumlah anak yang mati sebelum disapih, cara menghitungnya dengan membagi jumlah anak yang mati sebelum disapih dengan jumlah total anak yang dilahirkan. Lambing interval adalah jarak (hari) antara kelahiran pertama dengan kelahiran berikutnya, cara menghitungnya dengan menghitung jumlah hari antara kelahiran pertama dengan kelahiran berikutnya. Bobot sapih adalah bobot anak umur 4 bulan, cara memperolehnya dengan melakukan penimbangan anak umur 4 bulan.Setelah memperoleh data litter size, mortalitas anak prasapih, lambing interval, dan bobot sapih, langkah selanjutnya adalah mencari nilai parameter reproduksi lainnya yang berkaitan dengan perhitungan pendapatan, yaitu : Indeks Reproduksi Induk (IRI) dan Produktivitas Induk (PI). Indeks reproduksi induk diperoleh dari perhitungan litter size, mortalitas anak prasapih, dan lambing interval. Sedangkan Produktivitas Induk dihitung dengan mengalikan indeks reproduksi induk dengan bobot sapih. Untuk lebih jelas tentang rumus-rumus perhitungan semua parameter reproduksi di atas dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Berikut ini penulis sampaikan contoh perhitungan dengan informasi yang berasal dari data reproduksi pada perbibitan ternak domba garut di peternakan rakyat yang dibina oleh Kampoeng Ternak di wilayah Kabupaten Garut dan Sukabumi. Data yang dimasukkan merupakan data rataan beberapa parameter reproduksi yang ada di kedua wilayah peternakan rakyat tersebut.

- Litter size (LS) : 1,60

- Lambing interval (LI) : 240 hari

- Mortalitas anak prasapih (MAPr) : 10 %

- Bobot sapih (BS) : 15 Kg

Yang pertama kali dihitung adalah Indeks Reproduksi Induk (IRI) dengan menggunakan rumus seperti tabel di atas :

IRI = ((1,60 x (1 – 0,10))/(240/360)) = 2,19 anak/induk/tahun

Selanjutnya menghitung Produktivitas Induk (PI) dengan rumus di atas :

PI = 2,19 x 14 = 32,85 Kg anak/induk/tahun

Berdasarkan hasil perhitungan di atas maka satu ekor induk menghasilkan 2,19 ekor anak per tahun atau setara dengan 32,85 Kg anak per tahun. Apabila diasumsikan harga ternak domba hidup pada saat ini Rp. 25.000,- per kilogram, maka induk tersebut menghasilkan Rp. 821.250,- per tahun atau Rp. 68.438,- per bulan. Jadi dalam perbibitan ternak domba garut dalam satu bulan seekor induk menghasilkan pendapatan sebesar Rp. 68.438,-. Jika menggunakan sistem bagi hasil 50:50 maka pendapatan pemilik dan peternak pemelihara masing-masing memperoleh Rp. 34.219,- per ekor induk.Perhitungan ini dapat juga dipergunakan oleh peternak dalam skala usaha yang lebih besar bahkan skala industri. Pada peternakan besar dan mempergunakan sistem gaji, hasil tersebut masih dipotong oleh biaya pakan dan tenaga kerja serta penyusutan. Hasil pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa total biaya tersebut sebesar Rp. 48.750,- per ekor per bulan. Sehingga keuntungan yang diperoleh sebesar Rp. 19.688,- per ekor induk per bulan.

Dari perhitungan di atas ternyata sistem bagi hasil jauh lebih menguntungkan dan lebih aman dari sisi usaha jika dibandingkan dengan sistem gaji. Wallahu a’lam (AS).

disalin dari www.kampoengternak.or.id

Minggu, 30 Agustus 2009

Malaysia Dilarang Membeli Domba Garut

BANDUNG, (PR).-
Pemprov Jabar menolak memberi izin pembelian bibit ternak domba garut oleh Malaysia, untuk melindungi kelestarian hewan ternak tersebut. Populasi ternak domba garut tengah dilakukan perlindungan oleh Pemprov Jabar dari ancaman dipatenkan oleh negara lain.

Gubernur Jabar H. Ahmad Heryawan, di Bandung, Rabu (20/5) mengatakan, belajar dari rencana pembelian bibit domba garut oleh Malaysia, terlihat adanya potensi besar pengembangan agrobisnis ternak tersebut dalam skala internasional. Peluang ini harus dimanfaatkan seoptimal mungkin oleh para peternak rakyat di Jabar, terutama domba garut.

"Kami juga akan berkoordinasi dengan sejumlah lembaga/instansi pemerintah terkait agar saling mendukung dalam upaya pelestarian komoditas-komoditas pertanian spesifik Jabar, termasuk domba garut. Kami tengah berupaya tak kecolongan agar berbagai komoditas spesifik lokal kemudian dipatenkan oleh negara lain," katanya di sela Ekspose Agribisnis Domba Jabar, di Mall Metro Indah, Bandung.

Disebutkan pula, peluang pemasaran domba internasional, di mana Jabar selaku sentra produksi di Indonesia, sangat terbuka dari Timur Tengah karena masyarakatnya sangat terbiasa makan daging domba dan kambing. Sejumlah pejabat negara di Timur Tengah menyatakan sangat meminati domba dari Jabar karena diketahui diusahakan oleh masyarakat Muslim, ketimbang selama ini membeli kambing dari Australia rata-rata 200 ton/hari.

Upaya pelestarian produk-produk pertanian spesifik Jabar dari ancaman dipatenkan negara lain, menurut Kepala Biro Produksi Pemprov Jabar, Toto M. Toha, juga dilakukan untuk produk muncang Sunan yang selama ini asli Kabupaten Sumedang. Soalnya, potensi bisnis muncang Sunan adalah produk bahan bakar alternatif dan pakan ternak.

Ketua Harian Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jabar, Entang Sastraatmadja, menilai, sikap Gubernur Jabar yang menolak izin pembelian domba garut oleh Malaysia, dapat dijadikan gambaran keberpihakan kepada usaha pertanian spesifik lokal, termasuk ternak domba.

Sinyal dari Gubernur Jabar tersebut harus diikuti koordinasi dan kekompakan berbagai dinas/instasi terkait lainnya di provinsi maupun kabupaten, bahkan tingkat pusat, mulai sektor hulu, izin perdagangan, kehakiman, pelabuhan, petugas keamanan, dll.

Dukungan pelestarian domba garut sebagai komoditas spesifik Jabar, juga muncul dari Dirjen Peternakan Departamen Pertanian, Tjeppy D. Sudjana, yang mengatakan, saat ini Departemen Pertanian tengah melakukan perlindungan sejumlah plasma nuftah lokal dari ancaman dipatenkan negara lain, misalnya domba garut dan sapi bali.

Diakui, pemerintah juga baru saja kecolongan atas lolosnya empat ratus bibit sapi bali melalui Sulawesi Utara yang juga dibeli Malaysia

sumber www.pikiran-rakyat.com

Minggu, 23 Agustus 2009

Pemprov. Jabar Siapkan Lahan Untuk Pembibitan Domba

Kamis, 20 Agustus 2009

Jika usulan program pembibitan domba disetujui dalam perubahan APBD Provinsi Jabar tahun 2009, Pemprov. Jabar menyiapkan lahan untuk kegiatan pembibitan domba, ungkap Kadisnak Jabar, Kusmayadi Tatang Padmadinata dalam keterangannya kepada jabarprov.go.id (20/8).Menurut Kusmayadi, usulan program tersebut merupakan salah satu usulan dari target pembangunan sektor peternakan, dalam memacu pengembangan ternak, Pemprov. Jabar mempunyai target untuk mengembangkan populasi domba. Program tersebut ditargetkan dapat selesai dalam tahun 2012.Pembibitan domba dalam perubahan APBD Jabar tahun 2009, direncanakan akan dilaksanakan di lahan seluas 26 Ha. Lahan tersebut, lokasinya ada di Kawasan Garut. Jenis domba yang akan dikembangkannya adalah Domba Garut.Jika program tersebut disetujui dalam perubahan APBD Jabar tahun 2009, dalam hitungan waktu 3 bulan, di lokasi tersebut akan dibuat kandang, kebun untuk pembibitan serta sebagian kecil kegiatan pembibitan domba, jumlahnya sebanyak 200 ekor.Rencananya, kegiatan pembibitan domba dengan jumlah besar akan dilaksanakan di tahun 2010. Lokasi pembibitan juga akan diperluas, salah satunya akan dilaksanakan di beberapa lokasi di Kawasan Kuningan. Target pembibitan domba, ujar Kusmayadi optimis dapat selesai dalam tahun 2012. Hal tersebut didasarkan atas pertimbangan program tersebut dilaksanakan secara terpadu. Salah satunya dilaksanakan bersamaan dengan program Sarjana Membangun Desa (SMD), untum kegiatan tersebut sebanyak 46 sarjana dipersiapkan untuk membantu kegiatan pembibitan domba.

Sumber : http://www.disnak.jabarprov.go.id